Selasa, 10 Juli 2012

Pilar Pendidikan

Triyanto, S.Pd
Tampaknya harus kita sadari, bahwa saat ini bangsa kita memang sedang sakit. Betapa tidak? Beberapa tahun belakangan, kita akrab dengan istilah krisis multidimensional. Keterpurukan politik, korupsi, ancaman disintegrasi dan lain sebagainya, hampir menjadi santapan sehari-hari. 
Namun, sesungguhnya kita alami saat ini adalah krisis akhlak. Akhlak sangat berkaitan dengan pola pikir, sikap hidup dan peri laku manusia. Jika akhlak dari seorang individu buruk, maka sangat mungkin ia akan melahirkan berbagai perilaku yang dampaknya dapat merugikan orang lain. Dalam konteks ini, keterpurukan akhlak dari individu-individu yang ada di dalamnya. 
Keburukan akhlak sangat berpotensi memicu timbulnya perilaku-perilaku negatif. Pelaku bisnis bisa saja melakukan kelicikan-kelicikan, begitu pun dalam berpolitik orang bisa berbuat kezaliman. Bahkan kehidupan rumah tangga yang bahagia pun bisa berubah menjadi bencana.
Salah satu aspek penting yang sangat terkait dengan upaya perbaikan akhlak adalah pola pendidikan. Minimal ada dua hal yang harus kita evaluasi, yaitu tata nilai pendidikan dalam keluarga dan tata nilai pendidikan yang ada di masyarakat kita. Bagaimanapun, pola pendidikan dalam keluarga tetap mempunyai peran penting. Sebab siapa pun yang kelak akan menjadi guru,  dokter, pedagang, politikus, peneliti, arsitek, tentara, atau apa saja, awalnya tentu sangat bergantung kepada pola pendidikan di rumah.
Sayangnya, para orang tua masih sering mengukur kesuksesan anak dari nilai akademisnya. Ketika mempunyai anak yang dapat peringkat pertama di kelasnya, orang tua mungkin bisa berbangga. Tetapi orang tua mungkin jarang mau tahu, seperti apa akhlak dia kepada guru dan teman-temannya? apakah anaknya di kelas nyontek atau tidak? apakah dia pendengki kepada sesama temanya atau tidak? apakah dia sombong atau tawadhu?
Karenanya, kegigihan orang tua untuk menjadi teladan bagi anak-anaknya adalah pendidikan yang tidak ternilai.  Singkatnya, apa yang diinginkan dari anak, mulailah dari diri sendiri. Ingin anak rajin, jadilah orang tua yang rajin. Ingin anak disiplin, jadilah orang tua yang disiplin. Ingin anak ramah dan lembut, mulailah berbuat ramah dan lembut.
Setelah itu, orang tua juga harus serius dalam mengevaluasi perilaku anak-anaknya. Jika ada anak yang mungkin agak nakal atau bandel jangan saling menyalahkan, tapi cobalah untuk mencari akar permasalahannya bersama-sama. Mungkin, yang kurang di miliki Indonesia adalah orang yang berakhlak mulia. Apa artinya sebuah nilai, jika manusianya tidak bernilai?
Apabila alat ukur kesuksesan hanya hal-hal duniawi, maka jangan aneh jika kelak di kemudian hari akan lahir generasi-generasi pencinta dunia. Menang, tidak ada salahnya kita mencari kebahagiaan duniawi. namun, jika kecintaan kepada dunia sudah membabi-buta, maka akan tumbuh kehinaan dan kelemahan diri. Rasullulah SAW pernah bersabda, "Dapat diperkirakan bahwa kamu akan diperebutkan oleh bangsa-bangsa lain sebagaimana orang orang tersebut melahap isi mangkok.". Para sahabat bertanya " Apakah saat itu jumlah kami sedikit? Rasullulah bersabda, "Tidak, bahkan pada saat itu jumlah kamu amat sangat banyak, tetapi seperti buih di dalam air bah, karena kamu tertimpa penyakit whan. ". Sahabat bertanya " apakah penyakit whan itu  ya Rasullulah?, Rasullulah bersabda, " Penyakit whan itu adalah cinta dunia dan takut akan kematian.
Penyakit cinta dunia dan takut kematian (whan) sebenarnya adalah kunci dari segala kelemahan manusia. Manusia-manusia yang terlalu cinta dunia akan melakukan apa saja tanpa menghiraukan hitam putihnya aturan. Dari sinilah, maka timbul keserakahan, kejahatan, kezaliman, serta keburukan akhlak lainya.
Dalam Alquran surat Al Hujarat ayat 13, Allah SWT berfirman, "Sesungguhya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa diantara kamu."Orang yang bertakwa selalu berhati-hati dalam setiap langkahnya. Dia takut kalau-kalau perbuatanya akan merugikan orang lain, juga kebaikan dirinya. Lebih dari itu, dia takut menabrak rambu-rambu Allah.
Alangkah indahnya jika komitmen takwa tersebut datang dari rumah, sehingga ketika anak tumbuh dewasa, maka ia akan memancarkan akhlakul karimah di lingkungannya. Jadi, gelar sementereng apapun, tanpa akhlak tidak akan ada artinya.
Negara kita ini tidak akan selamat kalau kita tidak serius membangun akhlak. Berapa sekarang anggaran kita untuk akhlak? Dari pada mendirikan bangunan tapi tidak berakhlak, bisa-bisa komponen bangunan itu "dikunyah/di korupsi" oleh manusia yang membangunnya.
tanggung jawab untuk memperbaiki akhlak juga terletak di tangan media masa, baik cetak maupun elektronik. Kata-kata bombastis seperti " Hancurkan! Kurang ajar! Biadab! yang muncul di surat kabar dapat memancing emosi pembacanya. sehingga perlu di pikirkan untuk menyajikan berita dengan kata-kata yang lebih bijak.
Lantas bagaimana seharusnya kita memperbaiki akhlak bangsa ini?  Pertama, mulailah perbaikan dari diri sendiri, sebab sekencang apapun kita berteriak ingin mengubah bangsa kalau kita tidak berusaha untuk memperbaiki diri terlebih dahulu. Bagaimana mungkin kita berbicara mengenai persatuan bangsa, jika dalam praktinya kita sendiri tidak bisa akur dengan saudara, tetangga atau keluarga.
Kedua, mulailah berbuat dari hal-hal yang kecil. Jangan berharap kita dapat membersihkan hal-hal yang besar jika sampah kecil saja tidak mau kita bersihkan. Besar itu rangkaian dari yang kecil. Kata-kata yang panjang rangkaian dari huruf, garis itu rangkaian dari titik. Kalau kita terbiasa melakukan hal kecil dengan baik, mudah-mudahan Allah akan memberi kemampuan kepada kita untuk mengerjakan hal-hal yang besar.
Ketiga, mulailah sejak saat ini. Do it now! jangan di tunda-tunda, karena semakin ditunda maka masalah sekecil apapun akan berubah menjadi besar.
Dalam Alqurn surat Al Mujaadilah ayat 11, Allah SWT berfirman, "...Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan,".
Ayat di atas mengisyaratkan bahwa selain ketakwaan, ilmu pengetahuan juga memiliki fungsi dan kedudukan yang signifikan dalam menentukan derajat seseorang. Orang yang berilmu dapat membawa berkah, baik untuk dirinya sendiri maupun lingkungan di sekitarnya. Sebaik-baiknya ilmu adalah ilmu yang menjadi amal dan sebaik-baiknya amal adalah amal yang ikhlas.
Sebagai tiang penegak, umat islam membutuhkan para profesional dari berbagai disiplin ilmu. Oleh karena itu, bergiat di bangku pendidikan merupakan langkah awal untuk mewujudkan hal tersebut. Namun sangat jelas, bahwa profesional-profesioanal yang dibutuhkan adalah profesional yang berakhlak. Apa artinya mereka pintar kalau tidak berakhlak? itu akan merusak. Wallahua'lam...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar